Sabtu, 29 Oktober 2016

Gambaran Peristiwa Hari Kiamat dalam Hadis Nabi
Musidul Millah

Ada dua hal pokok berkaitan dengan keimanan yang mengambil tempat tidak sedikit dalam ayat-ayat Al-Quran. Pertama adalah uraian serta pembuktian tentang keesaan Allah swt dan kedua adalah uraian dan pembuktian tentang hari akhir. Al-Quran dan hadis Nabi saw tidak jarang menyebut kedua hal itu saja untuk mewakili rukun-rukun iman lainnya.

Demikian terlihat bahwa keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan keimanan kepada hari kemudian. Memang keimanan kepada Allah tidak sempurna kecuali dengan keimanan kepada hari akhir. Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna motivasinya dengan keyakinan tentang adanya hari kemudian. Karena kesempurnaan ganjaran dan balasannya hanya ditemukan di hari kemudian nanti.

Istilah kiamat menempati posisi penting dalam al-Qur’an. Hal ini terlihat dari pemberian nama-nama surat yang jika dibandingkan dengan konteks-konteks lainnya, hanya konteks Kiamat saja yang disebutkan dalam sepuluh surat, yaitu: al-Waqi’ah, al-Haqah, al-Qiyamah, al-Naba’ (berita besar), al-Takwir (menggulung), al-Infithar (terbelah), al-Ghasyiah (peristiwa yang dahsyat), al-Zilzalah (kegoncangan), dan al-Qari’ah. Di samping surat-surat ini, ada beberapa surat ang tidak secara langsung bermakna Hari Kiamat, tetapi sebagian besar isinya mengenai Hari Kiamat, seperti surat Yasin.[1]

Gambaran Peristiwa Hari Kiamat

Persoalan Kiamat juga tidak terlepas dari nabi Muhammad saw yang turut menggambarkannya melalui hadis-hadis futuristik yang bagaimanapun perlu disikapi dengan bijaksana. Hadis-hadis yang begitu populer di kalangan umat Islam belakangan ini tampaknya kurang begitu populer di kalangan sahabat Nabi saw. Begitu penting dan dahsyatnya informasi yang terkandung di dalamnya, hanya segelintir saja sahabat yang meriwayatkan hadis-hadis tersebut, padahal seharusnya informasi penting semacam ini diketahui para sahabat secara merata, dengan indikasi mutawatir. Karena, meskipun di kalangan para sahabat hadis yang mengandung informasi “ramalan” itu tidak mutawatir, tetapi pada generasi berikutnya diriwayatkan secara mutawatir. Terlepas dari tawatur tidaknya riwayat tersebut, terdapat sanad shahih yang membawa informasi tersebut, sehingga cukup alasan mempercayai hadis-hadis yang sulit dijangkai akal itu.[2] Begitu pula dengan hadis yang menggambarkan Hari Kiamat, dengan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan hadis-hadis futuristik yang lain tentunya menuntut kita untuk menentukan sikap, apakah masih perlu diperdebatkan? Atau cukup dengan sikap tawaquf. Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit pencerahan bagi siapapun yang membacanya. Juga bagi penulis pribadi.

Hadis tentang gambaran hari kiamat

Karena banyaknya hadis yang memberikan informasi mengenai gambaran Hari Kiamat, penulis membatasinya pada hadis yang melukiskan kondisi manusia pada saat itu dalam keadaan berkeringat, bahkan ditegaskan air keringat yang keluar mampu menenggelamkan mereka sampai batas telinga. Hadis yang dimaksud adalah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya: [3]

حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ (رواه البخاري)

Artinya: Rasulullah saw pernah bersabda: “Pada hari kiamat manusia akan berkeringat sampai-sampai keringat mereka mengalir sebanyak tujuh puluh hasta, dan menenggelamkan mereka hingga mencapai telinga mereka.” (H.R. al-Bukhari)

Setelah dilakukan proses takhrij berkenaan dengan hadis tadi, dapat kita jumpai bahwa ternyata ada hadis lain yang bernada sama dengan hadis di atas. Hadis-hadis tersebut dapat dilacak didalam kitab:

H.R. Muslim, Shahih Muslim, no. 5107.[4]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ بَاعًا وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ أَوْ إِلَى آذَانِهِمْ يَشُكُّ ثَوْرٌ أَيَّهُمَا قَالَ

H.R. Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, no. 9058.[5]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ بَاعًا وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ أَوْ إِلَى آنَافِهِمْ شَكَّ ثَوْرٌ بِأَيِّهِمَا قَالَ

Dari penelusuran hadis melalui proses takhrij dapat diketahui bahwa hadis tersebut merupakan hadis ahad gharib karena hanya diriwayatkan oleh Ab Hurairah saja, namun demikian, ternyata hadis ini juga digambarkan dengan redaksi lain yang kesemuanya mendeskripsikan kejadian yang sama, di antaranya:

2. H.R. al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, no. 2345.[7]

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا الْمِقْدَادُ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أُدْنِيَتْ الشَّمْسُ مِنْ الْعِبَادِ حَتَّى تَكُونَ قِيدَ مِيلٍ أَوْ اثْنَيْنِ قَالَ سُلَيْمٌ لَا أَدْرِي أَيَّ الْمِيلَيْنِ عَنَى أَمَسَافَةُ الْأَرْضِ أَمْ الْمِيلُ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ قَالَ فَتَصْهَرُهُمْ الشَّمْسُ فَيَكُونُونَ فِي الْعَرَقِ بِقَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى حِقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ إِلْجَامًا فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ أَيْ يُلْجِمُهُ إِلْجَامًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ عُمَرَ

3. H.R. Ahmad, Musnad Ahmad bin Hanbal, no. 22696.[8]

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنِي الْمِقْدَادُ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أُدْنِيَتْ الشَّمْسُ مِنْ الْعِبَادِ حَتَّى تَكُونَ قِيدَ مِيلٍ أَوْ مِيلَيْنِ قَالَ فَتَصْهَرُهُمْ الشَّمْسُ فَيَكُونُونَ فِي الْعَرَقِ كَقَدْرِ أَعْمَالِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى رُكْبَتِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ إِلْجَامًا

Gambaran peristiwa Hari kiamat

Secara leksikal, kiamat (qiyamah) berarti bangkit. Dinamakan demikian karena memang pada saat itu manusia akan dibangkitkan kembali dari kuburnya untuk kemudian menghadap Sang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, Allah swt.[9] Lebih spesifik lagi, al-Qur’an menggambarkan kedahsyatannya dengan menyebutkan bahwa Hari Kiamat merupakan “Hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (Q.S. al-Infithar: 19). Di dalam al-Qur’an, banyak ayat yang menggambarkan betapa hebat dan dahsyatnya peristiwa Kiamat yang secara umum melukiskan kehancuran seluruh kosmos secara total, bukan kehancuran pada bagian tertentu saja.

Peristiwa Kiamat, berdasarkan al-Qur’an, dimulai dengan peniupan sangkakala yang pertama. Peniupan ini mengakibatkan matinya semua makhluk -kecuali bagi yang dikehendaki oleh Allah- dan hancurnya alam semesta secara keseluruhan. Al-Ghazali, dalam hal ini, menganggap bahwa yang dikehendaki oleh Allah untuk tetap hidup pada saat itu adalah malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail. Ada jarak waktu antara peniupan sangkakala yang pertama dan kedua, al-Ghazali menyatakan bahwa jeda antara keduanya adalah selama 40 trahun. Kemudian setelah terjadi kehancuran total malaikat Israfil meniupkan sangkakala yang kedua untuk membangkitkan manusia, Allah swt akan memerintahkan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa secara berturut-turut: malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan dirinya sendiri (Izrail). Pada saat manusia menunggu terjadinys Putusan Pengadilan, ketika itulah semua makhluk benar-benar menyadari kelengahannya selama di dunia, karena saat itu merupakan hari ketika manusia mempertanggungjawabkan amal yang telah diperbuat selama di dunia.[10] Dan semua itu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sebagaimana difirmankan Allah: Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Q.S. al-Zilzalah: 7-8)

Penjelasan hadis Gambaran Peristiwa Hari Kiamat

Ibnu Hajar dalam karyanya Fath al-Bari menyatakan bahwa selain memiliki syahid yang memiliki redaksi serupa, ternyata hadis tersebut juga memiliki variasi redaksi yang beragam. Dan ketiak menghimpun semua itu, beliau menyimpulkan bahwa term al-nas di sana memberikan penegasan hanya kepada orang kafir saja. Di dalam kitabnya tersebut, beliau secara terang-terangan mengutip hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang menyatakan bahwa orang yang akan tenggelam dalam keringatnya sendiri adalah orang kafir, beliau menambahkan bahwa hari itu (Kiamat) akan terasa sangat berat sampai-sampai orang kafir tenggelam dalam keringatnya sendiri, sedangkan orang-orang mukmin duduk di atas kursi yang terbuat dari emas dan mereka dinaungi oleh amal yang telah diperbuat padahal saat itu matahari berada di atas kepala manusia. Namun beliau memberikan catatan bahwa sebenarnya kondisi mereka nanti tidaklah sama, masing-masing berbeda sesuai dengan amal perbuatannya. Yang secara jelas disebutkan dalam hadis lain yang menggambarkan bahwa setiap orang akan mendapatkan perlakuan sesuai dengan amalnya. Adapun redaksinya diungkapkan dengan menyebutkan perbedaan batas kedalaman setiap orang ketika keringat terus mengalir, dan hal tersebut dapat dijadikan ukuran akan amal seseorang.

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Hamzah berkata bahwa secara tersurat hadis tersebut memang diperuntukkan bagi semua manusia tanpa terkecuali, akan tetapi ternyata ada hadis-hadis lain yang menunjukkan adanya pengkhususan terhadap sebagian besar orang saja. Sedangkan dzira’ dapat dipahami seperti pada umumnya, namun ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah ukuran dzira’ malaikat, dan jika memang demikian maka tidak dapat dibayangkan betapa besarnya ketakutan pada hari tersebut, hari ketika api mengelilingi tanah, matahari mendekat kira-kira satu mil, dan hari di mana ketakutan tidak dapat disembunyikan lagi sehingga dapat dibayangkan betapa panasnya pada saat itu sampai keringatpun bercucuran hingga mencapai 70 hasta, padahal setiap orang hanya memiliki ruang sebesar telapak kakinya saja. Jika memang setiap orang mendapatkan perlakuan berbeda, lantas bagaimana dengan gambaran di atas beserta keaneka ragaman orang yang berada di sana? Beliau menegaskan bahwa ini memang merupakan perkara yang tidak dapat dicerna akal dengan mudah dan hanya menuntut pengimanan.[11]

Dengan jawaban lain, Ibnu al-Malik menyatakan bahwa bolen jadi Allah mengatur ketinggian tempat berpijak setiap orang, atau kalau pun tidak bisa saja Allah swt menahan keringat manusia sesuai dengan amalnya agar tidak mengenai yang lain sebagaimana Allah menahan laju ombak ketika nabi Musa menyebrangi lautan. Pendapat ini juga diamini oleh al-Qariy dengan pernyataannya bahwa dua orang yang dikubur berdampingan, yang satu mendapatkan adzab, sedangkan yang lainnya mendapatkan nikmat maka tidak satu pun dari mereka merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.[12] Hal semacam ini dapat diterima mengingat peristiwa tersebut merupakan bagian dari hal-hal gaib yajng juga wajib diimani, sehingga barang siapa yang memilih untuk bertawaqquf ketika dihadapkan dengan hadis ini maka sebenarnya ia telah menyesali perbuatannya dan merasa rendah diri di hadapan-Nya. karena di sisi lain berita semacam ini juga berfungsi untuk memperingatkan manusia akan pastinya Hari Kiamat.[13]

Syafa’at pada Hari Kiamat

Al-qur’an menginformasikan bahwa pada saat terjadinya Pengadilan, tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mengelak dan menyembunyikan sesuatu dari pemeriksaan Allah swt. Mulut manusia ditutup, dan yang menjadi saksi atas perbuatan mereka adalah anggota badan mereka sendiri.[14] Dan al-Ghazali meyakini bahwa Allah dapat saja memalingkan seseorang yang akan meninggal dunia yang semula adalah orang mukmin menjadi orang yang sesat, demikian pula sebaliknya, Allah dapat pula memalingkan manusia yang semula sesat menjadi mukmin. Jika Allah menghendaki agar hambanya mendapatkan petunjuk (hidayah)-Nya dan agar semakin kokoh imannya, maka akan datang suatu rahmat dari sisi-Nya. Syafaat tersebut bagi al-Ghazali, akan dikabulkan oleh Allah dan para nabi, para ulama, dan orang-orang saleh. Bahkan setiap orang yang berperilaku baik dapat memberikan syafaat kepada istri, kerabat, dan teman-temannya. Di sisi lain, Fazlur Rahman mengakui bahwa Hari Kebangkitan dan Hari Perhitungan menduduki tema sentral dalam dalam takdir Tuhan atas manusia, dan pada saat yang sama ia jugamengatakan bahwa nasib kehidupan seseorang di akhirat sangat bergantung pada perbuatannya di dunia dalam rentang masa kelahiran dan kematian. Implikasinya, manusia sendirilah yang akan menentukan perjalanannya kelak di Hari Kebangkitan sekalipun sesungguhnya sudah berada dalam takdir dan pengetahuan Tuhan. Karena sesungguhnya manusialah yang merupakan pencipta nasibnya sendiri baik di masa kini maupun masa datang, lanjut Rahman. Sehingga, dari sinilah Rahman menolak gagasan syafaat serta pertaubatan ketika sekarat karena pada saat itutelah tertutup baginya untuk beramal saleh, berbeda dengan al-Ghazali yang justru menegaskan hal sebaliknya.

Berangkat dari firman Allah swt yang berbunyi: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at, dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. al-Baqarah: 254)

Rahman menyatakan bahwa ayat ini menunjukan adanya kesesuaian bahwa rahmat Allah memang tidak terbatas. Akan tetapi ternyata dalam beberapa hadis disebutkan bahwa syafaat para nabi kepada kaumnya yang berdosa, terutama syafaat nabi Muhammad saw, dapat diberikan. Ketidak setujuan Rahman dapat dimaklumi, mengingat beliau menganggap tidak ada satu pun yang dapat menolong manusia di dalam ketidak berdayaan dan kesendiriannya di Hari Kiamat nanti dan adanya anggapan bahwa keyakinan terhadap hadis syafaat justru malah akan mengendurkan keketatan niai moral dengan munculnya sifat tasahhul.[15] Akan tetapi seharusnya Rahman dapat memperlakukan hadis-hadis tersebut secara proporsional tidak mengesampingkan kenyataan bahwa hadis-hadis tersebut juga patut dipertimbangkan sebagai hujjah penggambaran luasnya rahmat Allah swt.

Kesimpulan dan Penutup

Dari pemaparan diatas, setidaknya ada beberapa hal yang pantas digaris bawahi; pertama, peristiwa datangnya Hari Kiamat dengan jelas telah dipastikan di dalam al-Qur’an dan digambarkan lebih lanjut melalui hadis-hadis Nabi saw; kedua, apresiasi yang diberikan oleh para ulama berkenaan dengan hadis-hadis futuristik bukanlah sebuah kemutlakan yang harus diikuti, namun paling tidak ada secercah harapan yang dapat meningkatkan keimanan kita; ketiga, kesulitan dan kesusahan yang tergambar dari hadis-hadis tersebut merupakan gambaran yang lebih mudah dicerna oleh akal, pun demikian secara substansi sama sekali tidak mengurangi bukti akan Kemaha Kuasaan Allah swt atas segala sesuatu -syafaat merupakan salahnya- dan pembalasan dilakukan sesuai dengan amal perbuatan masing-masing; keempat, mungkin lebih bijak jika tawaquf merupakan alternatif yang patut dipilih, meskipun kita sadari bahwa tema-tema futuristik ternyata juga mampu memberikan rangsangan hebat terhadap akal, karena dengan demikian kita mengekui kelemahan dan kekurangan kita. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kiranya demikianlah makalah yang dapat penulis sajikan, ucapan terima kasih tak lupa disampaikan kepada bapak Dr, Agung Danarta, M.Ag. selaku dosen pengampu mata kuliah Hadis III dan pihak-pihak yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Namun penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekeliruan, sehingga masih jauh dari kata sempurna. Kritik dansaran pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depan. Semoga kiamat masih jauh.

Catatan Kaki


[1] Sibawaihi, Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman; Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer (Yogyakarta: Penerbit Islamika: 2004), hlm. 102. Oleh ‘Abd al-Razzaq Naufal, nama-nama kiamat ini dikembangkan menjadi sekitar 47 nama. Lihat, ‘Abd al-Razzaq Naufal, Yaum al-Qiyamah (Kairo: Maktabah Dar al-Syu’ab, tt.), hlm. 14-27.
[2] Muhammad Zuhri, Telaah Matan Hadis; Sebbuah Tawaran Metodologis (Yogyakarta: LESFI, 2003), hlm. 135.
[3] Hadis Riwayat Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab Qaul Allah Ta’ala Ala Yadhunn Ula’ikaAnnahum Mab’utsun al-Yaum, No. 6051, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[4] Hadis Riwayat Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Jannah wa Shifah Na’imiha wa Ahliha, Bab Shifah Yaum al-Qiyamah, No. 5107, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[5] Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad bin Hanbal, Kitab Musnad al-Mukatstsirin min al-Shahabah, Bab Baqi al-Musnad al-Sabiq, No. 9058, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[6] Hadis Riwayat Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Jannah wa Shifah Na’imiha wa Ahliha, Bab Shifah Yaum al-Qiyamah, No. 5108, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[7] Hadis Riwayat al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Kitab Shifah al-Jannah wa al-Raqaiq wa al-Wara’ ‘an al-Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Sya’n al-Hisab, No. 2345, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[8] Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad bin Hanbal, Kitab Baqi al-Musnad al-Anshar, Bab Hadits al-Miqdad bin al-Aswad, No. 22696, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[9] Muhammad bin Mukarram bin Mandhur, Lisan al-‘Arab, DVD al-Maktabah al-Syamilah (Solo: Pustaka Ridwana, 2004), jilid. 12 hlm. 496.
[10] Sibawaihi, Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman; Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer (Yogyakarta: Penerbit Islamika: 2004), hlm. 102-106.
[11] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, Penjelasan Atas Hadis Riwayat Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab Qaul Allah Ta’ala Ala Yadhunn Ula’ikaAnnahum Mab’utsun al-Yaum, No. 6051, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997. Bandingkan dengan, Syaraf al-Din al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Penjelasan Atas Hadis Riwayat Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Jannah wa Shifah Na’imiha wa Ahliha, Bab Shifah Yaum al-Qiyamah, No. 5108, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[12] Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, Penjelasan Atas Hadis Riwayat al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Kitab Shifah al-Jannah wa al-Raqaiq wa al-Wara’ ‘an al-Rasul, Bab Ma Ja’a Fi Sya’n al-Hisab, No. 2345, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[13] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, Penjelasan Atas Hadis Riwayat Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab Qaul Allah Ta’ala Ala Yadhunn Ula’ikaAnnahum Mab’utsun al-Yaum, No. 6051, CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.
[14] Lihat Q.S. Yasin: 65.
[15] Lihat, Sibawaihi, Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman; Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer (Yogyakarta: Penerbit Islamika: 2004), hlm. 119-125.
Konsep Manusia di dalam al-Qur’an.

(Kajian tematis dengan metode Munasabah)
Oleh: Qoem Aula Syahid

Konsep Manusia merupakan salah satu di antara tema sentral yang dibicarakan di dalam al-Qur’an. Hal ini terindikasi dari beberapa kata yang terdapat di dalam al-Qur’an yang itu semua berpulang pada makna dan tema yang satu, yaitu membicarakan manusia. Setidaknya ada empat kata di dalam al-Qur’an yang mewakili makna manusia: pertama, al-basyar, kedua an-nas, ketiga al-ins dan keempat al-insan.
Meskipun memiliki makna yang sama, bukan berarti keempat kata tersebut tidak memiliki unsur-unsur yang berbeda. Sebab, dalam kaidah dasar ulum al-Qur’an menetapkan bahwa ayat al-Qur’an terlepas dari pemaknaan berulang-ulang secara sia-sia.
Kaidah dasar ini meniscayakan di dalam al-Qur’an, gambaran konsep manusia yang komperhensif akan didapatkan dengan mengkaji keempat key word tersebut. Berdasarkan itu, maka tulisan ini mencoba untuk menjelaskan secara sederhana konsep manusia di dalam al-Qur’an dengan menggunakan metode munāsabah āyahbilāyah.
Metode munasabah adalah metode yang digunakan untuk menangkap makna terdalam pada satu tema (maudhu’i)[1] dengan cara mengkomparasikan dan menghubungkan satu ayat dengan ayat lain yang memiliki kesamaan tema.[2] Dalam hal ini, maka ayat yang di dalamnya terdapat kata al-basyar akan dihubungkan dengan ayat lain yang juga menggunakan kata al-basyar. Begitu pun dengan kata-kata lainnya. Hal ini bertujuan –sebagaimana yang telah dijelaskan di atas- untuk mengungkap pemaknaan manusia secara komperhensif yang dibicarakan di dalam al-Qur’an.
Kajian Ceramah Agama Islam Terbaru
Ceramah Agama Islam (Foto: Suaranews.com
Konsep Al-Basyar
Secara Bahasa, kata al-basyar berasal dari kata basyara-basyran. Di antara makna dari kata tersebut adalah mengupas. Pemaknaan kata mengupas tersebut, -jika kita merujuk kepada makna yang diberikan oleh al-Ashfahani di dalam mufradat al-alFazhal-Qur’an-dikarenakan kata basyar bisa menjadi al-bisyrah atau al-basyarah yang artinya kulit yang tampak. Beberapa ahli bahasa kemudian menjelaskan kenapa manusia disebut dengan kata basyar, karena secara fisik kulit manusia lebih tampak dari pada rambut/bulu-bulunya. Berbeda dengan hewan yang lebat bulunya atau sama sekali tidak memiliki bulu.[3]
Makna al-Qur’an: Berangkat dari makna bahasa ini, maka secara umum ayat yang menggunakan kata al-basyar menunjukkan manusia secara fisik. Seperti pada firman Allah surat al-Furqan: 54 dan Shaad: 71. Hal ini diperkuat pada ayat-ayat lain yang memberikan definisi bahwa al-basyar adalah wadah fisik yang bersifat materil, membutuhkan makan dan minum dan menunjukkan siapa saja, baik nabi maupun orang kafir. (al-Anbiya: 1-8)

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ (1) مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (2) لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (3) قَالَ رَبِّي يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (4) بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآَيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ (5) مَا آَمَنَتْ قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَفَهُمْ يُؤْمِنُونَ (6) وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (7) وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ (8) [الأنبياء/1-8]
Al-Anbiya (21): 1. Telah dekat kepada manusia perhitungan mereka, sedangkan mereka lalai dan berpaling. 2. Tidak datang kepada mereka peringatan baru dari Tuhan mereka melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain-main. 3. dan hati mereka bergurau meremehkan. Dan orang-orang yang zalim berbicara secara rahasia: Orang ini tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kamu? Apakah kamu akan menerima sihir ini padahal kamu tahu? 4. Muhammad berkata kepada mereka: Tuhanku mengetahui semua perkataan, baik di langit maupun di bumi. Dia maha mendengar dan maha mengetahui. 5. Bahkan mereka berkata: Impian yang kalut! Tidak, dia mengada-ada, bahkan dia adalah seorang penyair. Maka, suruhlah dia mendatangkan kepada kita suatu ayat sebagaimana rasul-rasul dahulu diutus. 6. Sebelum mereka, tiada seorangpun penduduk kota yang kami binasakan mau beriman. Lalu apakah mereka akan beriman? 7. Kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali hanya orang lakilaki yang Kami berikan wahyu. Bertanyalah kepada yang masih ingat (ahli dzikr)jika kamu tidak tahu. 8. Dan Kami tidak membuat mereka tubuh yang tidak makan, dan tidak pula mereka kekal.
Bahkan dalam beberapa ayat, orang kafir mempergunakan kata basyar untuk mengingkari kenabian utusan Allah (al-Mudattsir: 25, al-Qamar: 24, yasin 15, al-Mukminun: 47, at-thaghabun: 6). Hal ini tentu menunjukkan bahwa basyar di zaman sebelum turunnya al-Qur’an sudah menunjukkan keadaan manusia secara fisik saja.

إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ
Inihanyaperkataanmanusia (al-Mudattsir: 25)

قَالُوا مَا أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَمَا أَنزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ
Mereka (penduduknegeri) menjawab, “kamuinihanyalahmanusiaseperti kami, dan (Allah) Yang MahaPengasihtidakmenurunkansesuatuapa pun; kauhanyalahpendustabelaka” (Yasin: 15)
Selain dari pemaknaan tersebut, terdapat pula ayat perlu diperhatikan bahwa, kekhususan dan keistimewan nabi yang hanya seorang basyar itu didapatkan dari wahyu yang diberikan kepadanya:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌفَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (Al-Kahfi: 110)
Ayat ini menunjukkan bahwa keadaan manusia tanpa wahyu menjadikannya manusia yang dipandang secara fisik semata tanpa ada keistimewaannya dibanding manusia bahkan makhluk-makhluk lain.
Konsep Al-Nas

Para ahli bahasa berbeda pendapat dalam melihat akar dari kata an-Nas. Beberapa di antara mereka, menyatakan bahwa al-Nas berasal dari kata unas yang berasal dari kata anisa yang artinya jinak-menjinakkan/ramah. Hilangnya hamzah pada kata tersebut disebabkan karena masuknya alif lam. Berbeda dengan pemaknaan tersebut, ahli bahasa lain berpendapat bahwa asal kata an-Nas adalah nasiya artinya lupa.[4] Yang lain mengakarkan pada kata nasa-yanusu artinya bergoncang. Sementara dzu nawwas artinya yang memiliki keilmuan.[5]
Makna al-Qur’an: Adapun jika dirujuk pada ayat-ayat yang menggunakan lafal an-Nas, maka setidaknya didapati tiga makna umum. Pertama an-Nas merujuk pada makna jenis makhluk. Seperti pada firman Allah surat al-Hujurat: 13 yang menjelaskan bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk yang berasal dari jiwa yang satu yaitu adam.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Wahaimanusia! Sungguh Kami telahmenciptakankamudariseoranglaki-lakidanseorangperempuan, kemudian Kami jadikankamuberbangsa-bangsadanbersuku-suku agar kamusalingmengenal. Sungguh, yang paling mulia di antarakamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah MahaMengetahui, MahaTeliti. ( Al-Hujurat: 13)
Pengertian ini diperkuat pada pemaknaan an-Nas sebagai ummat yang satu dan jenis yang disejajarkan dengan malaikat pada firman Allah al-Baqarah 161-162 dan 213.
Kedua makna an-Nas bisa juga berarti adalah manusia dari aspek kelebihannya. Hal ini bagi Al-Isfhani disebabkan wujudnya akal, dzikir dan akhlak baik dalam diri manusia. seperti pada surat al-Baqarah: 113:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ
Dan apabiladikatakankepadamereka, “Berimanlahkamusebagaimana orang lain telahberiman!” Merekamenjawab, “Apakah kami akanberimanseperti orang-orang yang kurangakalsehatberiman?” Ingatlah, sesungguhnyamerekaitulah orang-orang yang kurangakal, tetapimerekatidaktahu. (Al-Baqarah: 113)
Makna ayat ini tidak menunjukkan pada mengikuti manusia sebagai sebuah makhluk atau entitas, tetapi lebih pada sifat-sifat luhur kemanusiaan yang dimilikinya.
Adapun makna ketiga berkaitan erat dengan makna pertama dan kedua. Yaitu bahwa an-nas menunjukkan perbedaan dan kelebihan manusia di banding makhluk lainnya. Perbedaannya adalah bahwa manusia tidaklah sama dengan setan yang hanya didominasi oleh nafsu. Tidak sama pula dengan malaikat yang tidak memiliki nafsu sama sekali. Perbedaan itu kemudian menjadi kelebihan jenis manusia dibanding kedua makhluk tersebut.
Selain itu, an-nas dengan makna ketiga ini memberi arti bahwa manusia bisa lebih condong kepada keimanan atau sebaliknya, kepada kekufuran. jika an-nas bermakna baik maka ia akan disandingkan dengan malaikat (2: 161, 3: 87, dan 22: 75). Namun jika an-nas bermakna jelek, maka ia disandikan dengan jin (lihat 11: 119, 32: 13, dan 114: 6).


Konsep Al-Ins


Al-Isfahani di dalam kitabnya menyebutkan kata al-Ins memiliki akar kata yang sama dengan al-Insan. Meski demikian, bagi al-Ashfahani al-Ins dan al-Insan memberikan penekanan yang sama sekali berbeda. Secara bahasa keduanya memang berasal dari alif nun dan sin, tetapi jika di lihat pada penggunaan katanya di dalam konteks ayat-ayat maka al-Ins, oleh beliau diartikan khilaful jinni (makhluk yang berbeda dari jin).[6]
Adanya makna tersebut merupakan hasil dari adanya kenyataan bahwa kata al-Ins selalu disandingkan dengan al-Jinn tetapi tidak menunjukkan kesamaan melainkan justru perbedaan. Seperti pada Surah Al-An’amayat 128:

ويَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ.
Dan (ingatlah) padahari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman) “Wahai golongan Jin! Kamu telah banyak menyesatkan manusia.” Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “YaTuhan, kami telahsaling mendapatkan kesenangan dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah dating. “Allah berfirman, “Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah berkehendak lain. “Sungguh, Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.
Ayat di atas, menunjukkan perbedaan antara jin dan manusia. sebab jin pada pengertiannya adalah makhluk yang menyesatkan al-ins (manusia). hal ini kemudian menjadi dasar bintu Syati di dalam tafsirnya at-tafsir al-bayan li al-Qur’an al-Karim menafsirkan bahwa sifat manusia harusnya berbeda dengan sifat jin yang dalam hal ini telah membangkang oleh Allah sehingga mempunyai pekerjaan menyesatkan. Jika ditarik makna ini lebih jauh, maka manusia yang telah disesatkan oleh jin pada hakikatnya telah jauh dari fitrah kemanusiaanya.[7]
Konsep Al-insan

Sementara kata al-Insan, meskipun bukan kata yang paling banyak tersebutkan dalam al-Qur’an, tetapi memiliki porsi yang cukup luas dalam menjelaskan konsep manusia menurut al-Qur’an. Secara bahasa, al-Insan –sebagaimana yang dikutip oleh al-Isfhani adalah:

سمي بذلك لأنه خلق خلقه لا قوام له إلا بإنس بعضهم ببعض
(Dikatakan (al-insan) karena dia adalah makhluk yang diciptakan yang tidak bisa hidup kecuali bersama dengan manusia lainnya).[8]
Dapat dijelaskan bahwa kata al-Insan mewakili manusia sebagai makhluk yang tidak bisa mempertahankan eksistensinya sendiri. dalam arti semenjak proses penciptaan, proses keberlangsungan hidup hingga nanti proses setelah kematian, manusia adalah makhluk yang menggantungkan dirinya dan memerlukan lainnya.
Makna al-Qur’an: Makna bahasa ini, bagi penulis kemudian menemukan perwujudannya dalam tiga pemakanaan yang terdapat dalam al-Qur’an. Pertama al-Insan itu menunjukkan bahwa manusia itu diciptakan dengan bergantung kepada Allah. Kedua manusia itu diciptakan dengan membutuhkan pengetahuan dan manusia diciptakan dengan berbagai macam kekurangan.
Makna pertama bisa ditarik dari firman Allah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ 
Ayat yang pertama kali diturunkan Allah ini mengindikasikan dengan jelas bahwa manusia itu pada mulanya diciptakan Allah berupa sesuatu yang bergantung. Secara filosofis bisa diartikan eksistensi manusia tidak akan bisa terwujud tanpa ada Allah dan manusia sendiri di dalam proses kehidupannya akan selalu bergantung pada kekuasaan tuhannya.
Dengan adanya kesadaran tersebut, maka kata al-Insan yang disebutkan dalam ayat yang menjelaskan proses penciptaan manusia pada hakikatnya tidak hanya bertujuan menunjukkan manusia dari segi fisiknya belaka, melainkan lebih kepada bagaimana manusia itu menyadari kekuasaan Allah atas dirinyaa sehingga manusia itu mengakui bahwa dia bergantung pada Zat yang menciptakannya:

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (8)
Al-Tariq (86): 5. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? 6. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, 7. yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. 8. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). (Al-Tariq ayat 5-8)
Berhubungan dengan pemaknaan pertama, maka makna kedua bisa dijelaskan bahwa untuk menyadari ketergantungan manusia kepada penciptanya, maka al-Insan itu diberikan anugrah Allah berupa ilmu pengetahuan. Sehingga harusnya pengetahuan itu menjadi kebutuhan, di mana kebutuhan pokok dari keilmuan itu adalah untuk mengenal Allah dan menyadari kebutuhan kita akanNya:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)
Adapun perwujudan makna al-Insan yang ketiga di dalam al-Qur’an adalah bahwa manusia itu makhluk yang bergantung disebabkan manusia memiliki potensi merugi.

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ 
Kerugian tersebut bisa terjadi lantaran di dalam diri manusia –sebagaimana pemaknaan al-Nas- memiliki sifat-sifat tidak terpuji dan bisa membawa kepada penyesalan dan keburukan. Di antara sifat tersebut adalah suka membantah(yasin 77-79, an-nahl: 4), lemah(an-nisa 28), tergesa-gesa(al-Isra: 11), tidak pandai bersyukur(al-Isra: 67), mudah berputus asa(al-Isra: 83), suka bangga dan sombong(Hud: 9-11), suka mengeluh dan kikir(al-Ma'arij: 19-21), suka membantah(18: 54), kebanyakan tidak mau tahu(33: 72), zhalim dan suka berbuat bodoh(az-Zumar: 49), suka beralasan(al-Qiyamah: 14), senantiasa dalam keadaan susah payah (al-Balad: 4)
Kekurangan-kekurangan inilah yang sejatinya bisa menjadikan manusia berada pada kerugian. Sementara kerugian itu disebutkan dalam al-Qur’an dengan istilah asfala as-Safilin. Adapun jika manusia memahami ketergantungannya kepada Allah, kepada pengetahuan akan Allah dan segala tindakan yang bisa menjurumuskannya dalam potensi-potensi buruk, maka manusia itu bisa kembali pada penciptaannya yang fitrah dan unggul, atau yang diistilahkan al-Qur’anahsanitaqwim.
Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa: Manusia di dalam al-Qur’an diwakili dengan empat kata: al-Basyar, al-Nas, al-Ins dan al-Insan
Al-Basyr menggambarkan manusia sebagai manusia secara fisik, wadah materil yang butuh makan dan minum dan menunjukkan manusia jenis apa saja, baik Nabi maupun kafir
Al-Nas memiliki tiga pemaknaan. Pertama: menunjukkan jenis makhluk yang bernama manusia. kedua: manusia tidak sebagai entitas secara fisik tetapi sifat-sifat. Ketiga manusia makhluk yang berbeda karena memiliki potensi menjadi baik dan menjadi buruk
Makna al-Ins merujuk pada makna berbeda dari Jinn dalam arti negatif
Makna al-Insan yang merujuk pada hakikat manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah, bergantung pada Allah, membutuhkan ilmu pengetahuan untuk mematuhi Allah dan menjauhkan diri dari potensi-potensi kerugian
Jika hendak diambil benang merah dari semua kata tersebut maka dapat disimpulkan bahwa manusia di dalam al-Qur’an tidak hanya bersifat basyar saja. tetapi an-nas yang memiliki potensi baik dan buruk. Hakikatnya manusia harus menjadi al-Ins yang tidak tersesat oleh al-Jinn. Untuk itu maka manusia harus menghayati dirinya sebagai al-Insan di mana potensi keburukan dan kerugiannya dijauhi dengan cara menyadari ketergantungannya kepada Allah melalui pengetahuannya kepada Allah dan mengaplikasikan pada tindakan untuk menghindari segala potensi keburukan dalam diri. Ketika manusia tidak bisa seperti itu, maka berarti manusia tersebut tidak terbimibing oleh wahyu. Akibatnya manusia hanya menjadi basyar secara fisik yang tidak berbeda dari makhluk lainnya bahkan jatuh pada derajat asfalas as-safilin. Namun ketika manusia mampu melakukan proses tersebut, berarti ia merupakan basyar yang istimewa karena mengikutiwahyu, dengan begitu ia berada pada derajat ahsani taqwim.


Catatan Kaki
[1]Abd. MuinSalim, MetodologiIlmuTafsir (Yogyakarta: Teras, 2010) hlm, 47
[2]Abdul Hayy Al-Farmawi, Al-Bidayah fi al Tafsir al-Maudhu’i (Mesir: Maktabah al Jumhuriyat, 1977), hlm 55-56
[3]Al Raghibal-Ashfahani, Mufradatal-Alfazhal-Qur’an,(Beirut: DarulIlmi, 1412 H), hlm. 124
[4]Al Raghibal-Ashfahani, Mufradatal-Alfazhal-Qur’an,(Beirut: DarulIlmi, 1412 H), hlm. 828
[5]Sahabuddin., (ed.). Ensiklopedi Al-Quran :KajianKosakata, (Jakarta : LenteraHati, 2007), Cet. I, hlm. 1040
[6]Al Raghibal-Ashfahani, Mufradatal-Alfazhal-Qur’an,(Beirut: DarulIlmi, 1412 H), hlm. 94
[7]AisyahBintusySyati, ManusiaDalamPerspektif AL-Qur‟an, (Jakarta: PustakaFirdaus,), hlm. 14
[8]Al Raghibal-Ashfahani, Mufradatal-Alfazhal-Qur’an,(Beirut: DarulIlmi, 1412 H), hlm. 94
Benarkah Kedatangan Dajjal, Tanda Kiamat?
Pendahuluan 
Salah satu diantara sendi-sendi arkan al-iman yang harus dipercayai oleh setiap mukmin adalah percaya akan datangnya hari kimat. Hari kiamat merupakan unsur penting dalam perjalanan kehidupan manusia dan agama. Pada hari itulah keadilan Sang Maha Kuasa dirasakan, pada hari itu pula lah manusia akan merasakan janji-janji yang telah termaktub pada al-Qur’an maupun al-Sunnah. 
Berbicara mengenai hari kiamat, kita tidak bisa memahami bahkan mengimaninya tanpa mengetahui seluk-beluk dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Kemunculan Dajjal, bangkitnya Isa Al-Masih merupakan dua dari beberapa kejadian yang akan terjadi sebelum datangnya hari akhir.[1]
Ilustrasi-ilustrasi tentang Dajjal, baik dari sisi hakekat maupun karakteristik keberadaannya di muka bumi telah dijelaskan sekian banyak oleh Sang Rasul Al-Amin. Dajjal dengan gelarnya Al-Masih telah merubah keyakinan dan kehidupan umat. Dengan keistimewaan-keistimewaan yang difasilitasi oleh Allah, tidak sedikit hamba yang beriman berbalik menjadi orang-orang yang takluk terhadap fitnahnya. Fitnah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini seakan memberikan kekaguman tersendiri yang pada akhirnya ia diyakini sebagai sosok Tuhan yang sebenarnya.
Benarkah Kedatangan Dajjal, Tanda dan ciri Kiamat?
Dalam tulisan ini, pembahasan tentang Dajjal secara keseluruhan akan dipaparkan secara deskriptif-analitik, dengan menggali hadis-hadis yang berkaitan, pembahasan ini diharapkan mampu memberikan sedikit diskursus yang menarik untuk diperbincangkan dan dikembangkan. Selain itu, dengan memahami Dajjal, penulis mengharapkan adanya “tambahan” keyakinan dan kepercayaan bahwa Dajjal sudah di depan mata. Sehingga kita dapat berhati-hati serta menyiapkan diri dalam menghadapai kebohongan yang luar biasa ini. 
A. Sejarah Al-Masih Al-Dajjal
Salah satu diantara tanda-tanda telah begitu dekatnya hari kiamat adalah munculnya seorang dajjal dengan gelar Al-Masih.[2] Lafal Al-Masih dapat berarti Al-Shiddiq (yang benar/yang suka kebenaran)[3] dan Al-Kadzdzab (yang suka berbohong). Kata tersebut dapat diungkapkan untuk Nabi Isa r.a. dan juga untuk Dajjal itu sendiri. Akan tetapi jika digunakan untuk Dajjal maka penisbatan tersebut mengandung beberapa makna.[4]
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa salah satu alasan penisbatan Al-Masih Al-Dajjal adalah terhapusnya (cacat) mata Dajjal sehingga tidak dapat melihat. Rasullullah SAW bersabda: 
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا أَبُو ضَمْرَةَ حَدَّثَنَا مُوسَى عَنْ نَافِعٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَيْنَ ظَهْرَيْ النَّاسِ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ أَلَا إِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ وَأَرَانِي اللَّيْلَةَ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فِي الْمَنَامِ فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ كَأَحْسَنِ مَا يُرَى مِنْ أُدْمِ الرِّجَالِ تَضْرِبُ لِمَّتُهُ بَيْنَ مَنْكِبَيْهِ رَجِلُ الشَّعَرِ يَقْطُرُ رَأْسُهُ مَاءً وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ وَهُوَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالُوا هَذَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ثُمَّ رَأَيْتُ رَجُلًا وَرَاءَهُ جَعْدًا قَطِطًا أَعْوَرَ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَشْبَهِ مَنْ رَأَيْتُ بِابْنِ قَطَنٍ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلٍ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ تَابَعَهُ عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ[5]
Selain itu, gelar Al-Masih disandang oleh Dajjal karena dia memiliki kemampuan menghapus bumi, melangkahinya dengan sekali langkah dan memotongya. Sedang lafal Dajjal memiliki makna tertutup dan tercampur. Penisbatan nama Dajjal kepadanya karena ia mampu menutupi kebenaran dengan kekuatan mistiknya, serta menyelimuti dari manusia dengan pengakuan dan kebohongan.[6] Ada juga yang mengatakan bahwa ia menutupi dengan banyaknya kelompoknya.
Sejarah mencatat, penisbatan nama Dajjal juga digunakan oleh Rasulullah SAW untuk para pendusta agama.[7] Rasulullah SAW menjanjikan menculnya para Dajjal hingga berjumlah 30 pendusta. Dan yang terahir kali keluar adalah raja pendusta Al-Masih Al-Dajal yang akan keluar di akhir zaman.
B. Dajjal yang dijanjikan Rasulullah
Setiap Rasul yang diutus telah memberikan peringatan kepada kaumnya akan bahaya fitnah Dajjal. Namun peringatan Rasulullah SAW kepada umat Islam merupakan peringatan yang tidak pernah disampaikan oleh para nabi sebelumya. Barangkali Rasulullah sendiri yakin bahwa umatnyalah yang akan menghadapi fitnah Dajjal, sebab umat Islam adalah umat terakhir yang akan menghadapi huru-hara akhir zaman. Maka pesan-pesan beliau kepada umatnya tentang Dajjal sedemikian banyak bertebaran pada hadis-hadis tentang fitnah.[8] 
Banyaknya riwayat tersebut menunjukkan agar perhatian umat Muhammad kepada Al-Masih Al-Dajjal banyak dicurahkan untuknya, meski bukan berarti melupakan yang lainnya. Sebagai bukti, bahwa setiap hari kita tidak boleh melupakan Dajjal adalah perintah Rasulullah untuk memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal setiap akhir shalat. Nabi berdo’a: 
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ عَنْ طَاوُسٍ الْيَمَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُهُمْ السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ[9]
Kepada Dajjal, Allah memberikan kehendak-Nya, menjadikanya mampu berbuat sesuatu di luar nalar akal manusia. Allah memberikan kekuatan dasyat yang tidak penah diberikan kepada makhluk selainnya. Semua ini dimaksudkan untuk menguji keimanan para hamba-Nya dan mengetahui siapa yang tetap berpegang teguh dengan janji Rasulullah SAW disaat fitnah tiba. Sehingga sangat ironis jika umat Islam tidak berhati-hati akan datangnya Dajjal al-Mau’ud.
C. Ciri-ciri dan sifat Dajjal dalam Hadis Nabi SaW
Informasi tentang Dajjal hanya bersumber kepada hadis-hadis Rasul, riwayat-riwayat yang menunjukan ciri-ciriya sangat banyak. Setidaknya Abu Fatiah Al-Adnani mencatat tiga belas riwayat yang menunjukakn ciri-ciri Dajjal, yaitu:[10]
1. Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda, “maka aku pergi sambil menoleh , tiba-tiba ada lelaki yang berkulit merah dan rambutnya berombak.”
2. Dari Khudzaifah bin Yaman bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dajjal adalah orang yang cacat mata kirinya dan rambutnya keriting seperti buih karena lebatnya.”
3. Dalam hadis Khudzaifah disebutkan, “Sesungguhnya Dajjal itu matanya terhapus dan diatasnya terdapat selaput mata yang tebal...”
4. Dari Abu Sa’id Al-Khudhri bahwa Rasulullah bersabda,”dan tidaklah diutus seorang nabi yang diikuti itu kecuali untuk memperingatkan kaumnya terhadap Dajjal. Aku telah menerangkan bahwa ia cacat, sedangkan Tuhan kalian tidaklah cacat. Mata kanannya menonjol dan tidak dapat disembunyikan, seolah-olah dahak yang berada di dinding kapur, sedangkan mata kirinya seperti planet yang bulat..”
5. Dari Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”ketika saya sedang tidur, saya bermimpi melakukan thawaf di Baitullah, lalu beliau mengatakan bahwa beliau melihat Isa Ibnu Maryam a.s. kemudian melihat Dajjal dan menyebutkan ciri-cirinya dengan sabdanya,” dia itu seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah, berambut keriting, matanya buta sebelah dan matanya itu seperti buah anggur yang masak (tak bersinar). Para sahabat berkata,”Dajjal ini lebih menyerupai Ibnu Qathan, seorang laki-laki dari Khuza’ah.
6. Dan diantara ciri-cirinya ialah seperti yang disebutkan dalam hadis Fatimah binti Qais mengenai kisah Al-Jasash, dalam riwayat itu Tamim al-Dari berkata,” ......lalu kami berangkat dengan segera sehingga ketika kami sampai di biara tiba-tiba disana ada seorang yang besar (hebat) dan diikat sangat erat...”
7. Dalam hadis Imran bin Husain, ia bekata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,”semenjak diciptakannya Adam hingga datangnya hari kamat tidak ada makhluk yang lebih besar daripada Dajjal.”
8. Dajjal tidak punya keturunan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Abi Sa’id Al-Khudri dalam kisahnya bersama Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berkata kepada Abi Sa’id,”saya bertemu orang banyak dan mereka mengira saya ini Dajjal. Bukankah anda pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Dajjal tidak punya anak (keturunan)? Abu Sa’id menjawab , “betul” Ibnu Shayad berkata lagi, “padahal saya punya anak...”
9. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut-nyebut dihadapan orang banyak, lalu beliau bersabda,”sesunguhnya Allah tidak buta sebelah matanya. Ketauhilah, sesungguhnya Al-Masih Al-Dajjal itu buta sebelah matanya yang kanan seakan-akan matanya itu buah anggur yang tersembul.”
10. Ubadah bin Al-Shamit meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,” sesungguhnya Dajjal itu seorang lelaki yang pendek dan gemuk, berambut keribo, buta sebelah matanya, dan matanya itu tidak menonjol serta tidak tenggelam..”
11. Dalam hadis Abu Hurairah Rasulullah bersabda,” adapun Masih kesesatan itu adalah buta sebelah matanya, lebar jidatnya, bidang dadanya bagian atas dan bengkok (kakinya)
12. Dalam hadis Khudzaifah Rasululah bersabda,” Dajjal tu buta matanya sebelah kiri dan lebat rambutnya.”
13. Dalam hadis Anas Rasulullah SAW bersabda,”dan diantara kedua matanya termaktub tulisan “kafir” yang kemudian dia mengejanya ka-fa-ra ­yang dapat dibaca oleh orang muslim.
Perlu diperhatikan bahwa dalam riwayat-riwayat diatas disebutkan bahwa Dajjal buta matanya yang sebelah kanan dan pada riwayat lain dijelaskan bahwa Dajjal buta matanya yang sebelah kiri. Setelah di tarjih, kedua riwayat yang bertentangan tersebut bagi Ibu Hajar riwayat yang menyatakan bahwa riwayat yang menyatakan bahwa Dajjal buta sebelah kiri lebih kuat, karena kuatnya Ibnu Umar. 
D Waktu dan tempat keluarnya dajjal
Tidak banyak ditemukan riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang waktu dan tempat keluarnya Dajjal. Bahkan tidak terdapat satupun informasi yang menjelaskannya secara pasti tentang hal tersebut. Hadis Tamim Al-Dari yang diriwatkan oleh Fatimah binti Qais menjelaskan posisi Dajjal berad diluar Yaman. 
Abu Hurairah berkata: saya mendengarkan Abu Al-Qasim berkata,”si buta Dajjal akan keluar dari arah timur pada zaman kegelapan yaitu zaman perpecahan manusia.”[11] Riwayat-riwayat ini tidak menunjukkkan kejelasan yang pasti waktu dan tempat munculnya Dajjal. Dengan demikian para Ulama’ menilai hal ini sebagai hikmah yang terkandung di dalamnya sehingga manusia diharapkan selalu bersiap diri dalam menghadapi kemunculan manusia laknat tersebut.
Secara keseluruhan, riwayat-riwayat yang ada menunjukkan adanya priodesasi kemunculan Dajjal. Priode pertama, Dajjal keluar untuk unjuk kekuatan, mebuat fitnah dan talbis, mencari pendukung, dan menebar propaganda bahwa dirinya adalah manusia yang baik dan bijaksana.[12] Selama masa ini Dajjal mendapatkan kemenangan dan banyak mengalahkan musuh-musuhnya. Priode ini berlangsung cukup panjang. Jika merujuk pada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, maka sejak saat itu pula Dajjal sudah keluar. Ada riwayat yang menunjukkan bahwa ia keluar selama 40 hari, akan tetapi hari pertamanya bagai 1 tahun, hari keduanya bagai satu bulan dan hari ketiganya bagai satu pekan.[13] 
Priode kedua, merupakan priode keluarnya Dajjal untuk yang kedua kalinya yaitu masa pertempuran terakhir antara Dajjal dengan kaum muslimin dan itu terjadi setelah kedatangan Al-Mahdi.[14] Pendukung Dajjal adalah Yahudi Ashbahan[15] yang tinggal di sebuah perkampungan Yahudiyyah. Jumlah mereka sebanyak 70.000 orang, semua menggunakan seragam yang sama.[16]
Keluarnya Dajjal dari arah timur ini disebabakan oleh kemarahan, hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat; “sesungguhnya Dajjal akan keluar karena suatu kemarahan.”[17] Kedatangan Dajjal ini terjadi setelah Al-Mahdi dan kaum muslimin berhasil menaklukan konstantin.[18]
Diriwayatkan dari Abu Bakar Al-Shiddiq r.a. ia berkata Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Dajjal akan keluar dari bumi ini di bagian timur yang bernama Khurasan.”[19] Ibnu Katsir berkata,”Maka Dajjal akan muncul dari Ashbahan, dari kampung yang bernama Al-Yahudiyyah.”[20] Pendapat ini dapat dibuktikan dari hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:
حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَمِّهِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمْ الطَّيَالِسَةُ[21]
E. Fitnah Dajjal dan cara berlindung darinya
Fitnah Dajjal merupakan fitnah paling besar diantara fitnah-fitnah yang ada semenjak Allah menciptakan Adam hingga datangnya hari kiamat. Hal ini disebabkan Allah memberikan hal-hal luar biasa padanya yang memukau dan membingungkan akal pikiran. Semua yang ditampakkan oleh Dajjal merupakan hal-hal yang sangat luar biasa.
Dari hadis-hadis tetang Dajjal dan keterangan para Ulama’ disimpulkan bahwa diantara fitnah Dajjal adalah sebagai berikut:[22]
1. Dajjal datang dengan membawa surga dan neraka. Siapa yang masuk ke surga Dajjal maka Allah akan mengadzabnya dengan neraka Allah, dan barang siapa yang bersabar denag neraka Dajjal, ia akan masuk surga yang sesungguhnya.
2. Dajjal diberi kemampuan untuk memerintahkan langit agar menurunkan hujan dan memerintahkan bumi untuk mengeluarkan tumbuhan. Sehinggga bagi orang-orang yang mengimaninya, mereka akan mendapatkan harta yang berlimpah.
3. Diantara fitnahnya adalah ia memaksa seorang manusia, lalu membunuh dan memotognya dengan gergaji hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, lalu dihidupkan kembali manusia tersebut dan memaksanya agar beriman kepadanya.
4. Dajjal mampu mendatangi sebuah bangunan yang runtuh, kemudian ia meminta agar semua hata simpanannya keluar, maka secara tiba-tiba harta itu akan berterbangan mengikutinya seperti sepasukan lebah yang terbang.
5. Dajjal mampu menghidupkan kembali orang yang telah mati, sehingga banyak orang yang menyangka dialah Tuhan yang sesungguhnya.
Untuk dapat lebih jelasnya, semua fitnah tersebut telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW yang direkam oleh para sahabatnya yang dapat kita jumpai di beberapa kitab hadis. Sebagai contoh adalah hadis berikut:
حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَالْحَسَنُ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَأَلْفَاظُهُمْ مُتَقَارِبَةٌ وَالسِّيَاقُ لِعَبْدٍ قَالَ حَدَّثَنِي و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا حَدِيثًا طَوِيلًا عَنْ الدَّجَّالِ فَكَانَ فِيمَا حَدَّثَنَا قَالَ يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِينَةِ فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِينَةَ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُولُ لَهُ أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثَهُ فَيَقُولُ الدَّجَّالُ أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّونَ فِي الْأَمْرِ فَيَقُولُونَ لَا قَالَ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ فَيَقُولُ حِينَ يُحْيِيهِ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي الْآنَ قَالَ فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلَا يُسَلَّطُ عَلَيْهِ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ يُقَالُ إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَام و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بِمِثْلِهِ[23]
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, peringatan Rasulullah SAW terhadap umatnya akan fitnah Dajjal sangat keras, tidak hanya sekedar menakut-nakuti atau mengancam, tetapi Sang Nabi juga memberikan pengajaran untuk berlindung dari fitnah kubra tersebut. Diantara petunjuk-petunjuk yang diajarkan olehnya adalah:
1. Berpegang teguh kepada din al-Islam dan bersenjatakan iman. Mengetahui nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan baik dan tidak bersekutu padanya dengan seorang pun, sehingga dapat mengidentifikasi bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang makan dan minum sedang Allah Maha Suci dari semua itu. Dajjal adalah buta sebelah matanya sedangkan Allah tidak,[24] dan sebagainya. 
2. Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal, khususnya pada waktu shalat. Hal ini bayak dimuat hadis-hadis shahih.[25]
3. Berlari dan menjauhi Dajjal. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Dajjal tidak akan menginjakkan kakinya di Mekkah dan Madinah.
F. Terbunuhnya Dajjal
Kedigdayaan Dajjal yang berlangsung sekian lama akan mulai tergusur tatkala Isa Al-Masih diturunkan oleh Allah SWT untuk mengembalikan dan menyelamatkan umat manusia kepada agama yang fitrah yaitu agama Islam. Nabi Isa a.s. turun di menara putih di timur Masjid Jami’ Al-Umawi Damaskus. 
Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata: telah bersabda Rasulullah SAW,” Dajjal akan keluar pada waktu agama sudah tidak diperhatikan dan ilmu (agama) sudah ditinggalkan orang. Kemudian turunlah Isa Ibnu Maryam, lalu beliau menyeru pada waktu sahur dengan mengatakan, “wahai manusia! Apakah yang menghalangi kamu untuk keluar menghadapi pembohong yang buruk ini? “mereka berkata,” Ini seorang lelaki bangsa jin. “lalu mereka keluar, tiba-tiba mereka jumpai Isa bin Maryam, lantas iqamati untuk shalat dan orang-orang pun berkata kepada beliau, “silahkan anda maju untuk menjadi imam, wahai Ruh Allah.” Beliau menjawab, hendaklah imam dari kalian saja yang maju ke depan untuk menjadi imam. “maka ketika beliau selesai menunaikan shalat shubuh, orang-orang keluar menemui beliau. Maka sang pembohong (Dajjal) melihat beliau, dia meleleh seperti melelehnya garam dalam air. Lalu beliau menuju kepadanya dan membunuhnya, hingga pohon-pohon dan batu-batu berkata,” wahai Ruh Allah! Ini ada orang Yahudi! Maka tidak ada seorang yang mengikuti Dajjal melainkan dibunuhnya.”[26]
Dengan terbunuhnya Dajjal, maka berakhirlah kegelapan dan kedustaan yang mengungkung umat selama fitnah kubra. Bersamaan dengan itu Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman dari kejahatannya dan kejahatan para pengikutnya melalui tangan Ruh Allah dan kalimat-Nya, yaitu Isa Ibnu Maryam dan pengikut-pengikut beliau yang beriman. 
Kesimpulan
Setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu direnungkan dalam memahami Al-Masih Al-Dajjal. Yaitu:
· Dajjal merupakan makhluk Allah yang diutus untuk menguji ketahanan keimanan umatnya. Ia merupakan suatu peringatan bagi hambanya agar selalu tetap berada pada jalan Allah yaitu al-din al-Islam. Dan merupakan simbol kehancuran dunia.
· Pengetahuan fundamental yang harus dipahami dalam membedakan kedigdayaan Dajjal dan kekuasaan Allah adalah sisi fisikya. Allah tidak akan pernah dilihat oleh mata telanjang hambanya di dunia ini, sedangkan Dajjal dan perawakan dan kebutaannya manusia dapat melihatnya. Dan ia adalah pembohong yang harus ditolak ajakan dan ajarannya. 
Daftar Pustaka
Abdullah, Malik bin Anas Abu. Al-Muwatta’ li Imam Ahmad. CD ROM. Mausuah Kutub Al-Tis’ah.
Al-Adnani, Abu Fatiah. Dajjal sudah Muncul dari Khurasan. Solo: Granada Mediatama, 2006.
Al-Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar Abu Al-Fadl. Fath Al-Bari fi Syarh Shahih Bukhari. CD ROM Al-maktabah Al-Syamilah.
Al-A’la, Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim Abu. Tuhfatul Ahwadzi Fi Syarkhi Jami’ Al-Tirmidzi. CD ROM. Al-Maktabah Al-Syamilah. 
Al-Bany, Muhammad Nashiruddin. Qishshah Al-Masih Al-Dajjal wa Nuzuli Isa Alaihi Al-Salam. al-Maktabah al-Syamilah.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismain Abu Abdullah. al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari. CD ROM Mausuah Kutub Al-Tis’ah
Al-Naisaburi, Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi. Al-Jami’ Al-Shahih li Muslim. CD ROM Al-maktabah Al-Syamilah.
Marzuki, Choiran A.. Qiamat; Surga dan Neraka. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997.
...Al-Muntaqa Syarkh Muwatta’.
[1] Kejadian-kejadian yang meliputi hari kiamat dapat dipahami dari bab-bab yang terdapat pada kitab hadis yang khusus membicarakan hal tersebut. Biasanya terdapat pada sub bab dengan tema “ma la taqumu al-Sa’ah illa bih” 
[2] Choiran A. Marzuki, Qiamat; Surga dan Neraka, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997), hal. 66 
[3] Julukan Al-Masih yang diartikan orang yang suka kepada kebenaran diberikan kepada nabi Isa Ibnu Maryam a.s. 
[4] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu Al-Fadl Al-Asqalani, Fath Al-Bari fi Syarh Shahih Bukhari, CD ROM Al-maktabah Al-Syamilah, 20: 132. 
[5] Hadis riwayat Imam Bukhari. Lihat: Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari, CD ROM Al-maktabah al-Syamilah. Bab wadzkur fi kitabi Maryam, hadis no: 3184. 
[6] Baca: Al-Muntaqa Syarkh Muwatta’, Juz II, hlm. 2. 
[7] Penggunaan kata Dajjal kemudian dipakai beberapa ahli hadis, khususnya ahli Rijal dalm menilai keburukan/kejelekan seorang perawi 
[8] Dalam pembahasan hadis-hadis tentang fitnah Imam Bukhari yang kemudian diikuti oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai pensyarah kitab, menuliskan hadis-hadis tersebut dalam satu bab tersendiri yang salah satu sub babnya berbicara tentang fitnah Dajjal. 
[9] Imam Malik, Al-Muwatta’, CD ROM. Mausuah Kutub Al-Tis’ah, nomor: 450. 
[10] Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal sudah Muncul dari Khurasan”, (Solo: Granada Mediatama, 2006), hlm. 70-73. 
[11] Muhammad Nashiruddin Al-Bany, Qishshah Al-Masih Al-Dajjal wa Nuzuli Isa Alaihi Al-Salam, al-Maktabah al-Syamilah. 
[12] Terdapat riwayat yang menunjukkan proses kemunculan Dajjal pertama kali, Rasululah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahili,”Di awal kemunculanya ia berkata “Aku adalah Nabi”, padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata , “Aku adalah Rab kalian”, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati. 
[13] Muhammad Nashiruddin Al-Bany, Qishshah... 
[14] Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai riwayat tentang kemunculan Dajjal setelah penaklukan Baitul Maqdis. 
[15] Ashbahan atau Isfahan adalah nama salah satu kota terkenal di Iran, yang terletak di Syairaz dan Taheran. 
[16] Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal...hlm. 109. 
[17] H.R. Muslim dan Ahmad dari Ibnu Umar. Lihat bab Al-Fitan wa Al-Malahim: 92. 
[18] Lihat Fath Bari: 13. 91. 
[19] Jami’ Al-Tirmidzi dalam Syarahnya Tuhfatul Ahwadzi, VI: 495. 
[20] Al-Nihayah fi Fitan wa Al-Malahim, I: 128. 
[21] H.R. Muslim bab Fi Baqiyyah min Hadis Dajjal, no: 5237. 
[22] Baca: Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal...hlm.127. 
[23] Hadis tersebut menunjukkan keperkasaan fitnah Dajjal dalam membunuh orang mukmin untukm kemudian dihidupkan kembali demi mensukseskan misinya yaitu iman kepadanya. H.R. Muslim bab Fi Shifati Al-Dajjal wa Tahrim Al-Madinah fihi wa Qatlahu Al-Mu’min wa Ihya’uh. CD ROM. Mausuah Kutub Al-Tis’ah, no: 5229. 
[24] Petunjuk ni dapat dipahami dari H.R. Imam Bukhari. Lihat: Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari, CD ROM Al-maktabah al-Syamilah. Bab wadzkur fi kitabi Maryam, hadis no: 3184. 
[25] Sebagaimana do’a nabi yang termuat pada hadis riwayat Bukhari nomor: 789. Yang artinya ”...Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Al-Dajjal..” 
[26] Al-Fathur Rabbani Tartib Musnad Ahmad 24: 85-86, dalam, Baca: Abu Fatiah Al-Adnani, Dajjal...hlm.13o.