Konsep Manusia di dalam al-Qur’an.
(Kajian tematis dengan metode Munasabah)
Oleh: Qoem Aula Syahid
Konsep Manusia merupakan salah satu di antara tema sentral yang
dibicarakan di dalam al-Qur’an. Hal ini terindikasi dari beberapa kata
yang terdapat di dalam al-Qur’an yang itu semua berpulang pada makna dan
tema yang satu, yaitu membicarakan manusia. Setidaknya ada empat kata
di dalam al-Qur’an yang mewakili makna manusia: pertama, al-basyar,
kedua an-nas, ketiga al-ins dan keempat al-insan.
Meskipun memiliki makna yang sama, bukan berarti keempat kata tersebut
tidak memiliki unsur-unsur yang berbeda. Sebab, dalam kaidah dasar ulum
al-Qur’an menetapkan bahwa ayat al-Qur’an terlepas dari pemaknaan
berulang-ulang secara sia-sia.
Kaidah dasar ini meniscayakan di dalam al-Qur’an, gambaran konsep
manusia yang komperhensif akan didapatkan dengan mengkaji keempat key
word tersebut. Berdasarkan itu, maka tulisan ini mencoba untuk
menjelaskan secara sederhana konsep manusia di dalam al-Qur’an dengan
menggunakan metode munāsabah āyahbilāyah.
Metode munasabah adalah metode yang digunakan untuk menangkap makna
terdalam pada satu tema (maudhu’i)[1] dengan cara mengkomparasikan dan
menghubungkan satu ayat dengan ayat lain yang memiliki kesamaan tema.[2]
Dalam hal ini, maka ayat yang di dalamnya terdapat kata al-basyar akan
dihubungkan dengan ayat lain yang juga menggunakan kata al-basyar.
Begitu pun dengan kata-kata lainnya. Hal ini bertujuan –sebagaimana yang
telah dijelaskan di atas- untuk mengungkap pemaknaan manusia secara
komperhensif yang dibicarakan di dalam al-Qur’an.
![]() |
| Ceramah Agama Islam (Foto: Suaranews.com |
Konsep Al-Basyar
Secara Bahasa, kata al-basyar berasal dari kata basyara-basyran. Di
antara makna dari kata tersebut adalah mengupas. Pemaknaan kata mengupas
tersebut, -jika kita merujuk kepada makna yang diberikan oleh
al-Ashfahani di dalam mufradat al-alFazhal-Qur’an-dikarenakan kata
basyar bisa menjadi al-bisyrah atau al-basyarah yang artinya kulit yang
tampak. Beberapa ahli bahasa kemudian menjelaskan kenapa manusia disebut
dengan kata basyar, karena secara fisik kulit manusia lebih tampak dari
pada rambut/bulu-bulunya. Berbeda dengan hewan yang lebat bulunya atau
sama sekali tidak memiliki bulu.[3]
Makna al-Qur’an: Berangkat dari makna bahasa ini, maka secara umum ayat
yang menggunakan kata al-basyar menunjukkan manusia secara fisik.
Seperti pada firman Allah surat al-Furqan: 54 dan Shaad: 71. Hal ini
diperkuat pada ayat-ayat lain yang memberikan definisi bahwa al-basyar
adalah wadah fisik yang bersifat materil, membutuhkan makan dan minum
dan menunjukkan siapa saja, baik nabi maupun orang kafir. (al-Anbiya:
1-8)
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ
فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ (1) مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ
مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (2) لَاهِيَةً
قُلُوبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلَّا
بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (3)
قَالَ رَبِّي يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (4) بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ
افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآَيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ
الْأَوَّلُونَ (5) مَا آَمَنَتْ قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا
أَفَهُمْ يُؤْمِنُونَ (6) وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا
نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ (7) وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ
وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ (8) [الأنبياء/1-8]
Al-Anbiya (21): 1. Telah dekat kepada manusia perhitungan mereka,
sedangkan mereka lalai dan berpaling. 2. Tidak datang kepada mereka
peringatan baru dari Tuhan mereka melainkan mereka mendengarkannya
sambil bermain-main. 3. dan hati mereka bergurau meremehkan. Dan
orang-orang yang zalim berbicara secara rahasia: Orang ini tidak lain
hanyalah manusia biasa seperti kamu? Apakah kamu akan menerima sihir ini
padahal kamu tahu? 4. Muhammad berkata kepada mereka: Tuhanku
mengetahui semua perkataan, baik di langit maupun di bumi. Dia maha
mendengar dan maha mengetahui. 5. Bahkan mereka berkata: Impian yang
kalut! Tidak, dia mengada-ada, bahkan dia adalah seorang penyair. Maka,
suruhlah dia mendatangkan kepada kita suatu ayat sebagaimana rasul-rasul
dahulu diutus. 6. Sebelum mereka, tiada seorangpun penduduk kota yang
kami binasakan mau beriman. Lalu apakah mereka akan beriman? 7. Kami
tidak mengutus sebelum kamu kecuali hanya orang lakilaki yang Kami
berikan wahyu. Bertanyalah kepada yang masih ingat (ahli dzikr)jika kamu
tidak tahu. 8. Dan Kami tidak membuat mereka tubuh yang tidak makan,
dan tidak pula mereka kekal.
Bahkan dalam beberapa ayat, orang kafir mempergunakan kata basyar untuk
mengingkari kenabian utusan Allah (al-Mudattsir: 25, al-Qamar: 24, yasin
15, al-Mukminun: 47, at-thaghabun: 6). Hal ini tentu menunjukkan bahwa
basyar di zaman sebelum turunnya al-Qur’an sudah menunjukkan keadaan
manusia secara fisik saja.
إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ
Inihanyaperkataanmanusia (al-Mudattsir: 25)
قَالُوا مَا أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَمَا أَنزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ
Mereka (penduduknegeri) menjawab, “kamuinihanyalahmanusiaseperti kami,
dan (Allah) Yang MahaPengasihtidakmenurunkansesuatuapa pun;
kauhanyalahpendustabelaka” (Yasin: 15)
Selain dari pemaknaan tersebut, terdapat pula ayat perlu diperhatikan
bahwa, kekhususan dan keistimewan nabi yang hanya seorang basyar itu
didapatkan dari wahyu yang diberikan kepadanya:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ
يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌفَمَنْ كَانَ يَرْجُو
لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ
رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang
diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan
yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (Al-Kahfi:
110)
Ayat ini menunjukkan bahwa keadaan manusia tanpa wahyu menjadikannya
manusia yang dipandang secara fisik semata tanpa ada keistimewaannya
dibanding manusia bahkan makhluk-makhluk lain.
Konsep Al-Nas
Para ahli bahasa berbeda pendapat dalam melihat akar dari kata an-Nas.
Beberapa di antara mereka, menyatakan bahwa al-Nas berasal dari kata
unas yang berasal dari kata anisa yang artinya jinak-menjinakkan/ramah.
Hilangnya hamzah pada kata tersebut disebabkan karena masuknya alif lam.
Berbeda dengan pemaknaan tersebut, ahli bahasa lain berpendapat bahwa
asal kata an-Nas adalah nasiya artinya lupa.[4] Yang lain mengakarkan
pada kata nasa-yanusu artinya bergoncang. Sementara dzu nawwas artinya
yang memiliki keilmuan.[5]
Makna al-Qur’an: Adapun jika dirujuk pada ayat-ayat yang menggunakan
lafal an-Nas, maka setidaknya didapati tiga makna umum. Pertama an-Nas
merujuk pada makna jenis makhluk. Seperti pada firman Allah surat
al-Hujurat: 13 yang menjelaskan bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk
yang berasal dari jiwa yang satu yaitu adam.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا
خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Wahaimanusia! Sungguh Kami
telahmenciptakankamudariseoranglaki-lakidanseorangperempuan, kemudian
Kami jadikankamuberbangsa-bangsadanbersuku-suku agar kamusalingmengenal.
Sungguh, yang paling mulia di antarakamu di sisi Allah ialah orang yang
paling bertakwa. Sungguh, Allah MahaMengetahui, MahaTeliti. (
Al-Hujurat: 13)
Pengertian ini diperkuat pada pemaknaan an-Nas sebagai ummat yang satu
dan jenis yang disejajarkan dengan malaikat pada firman Allah al-Baqarah
161-162 dan 213.
Kedua makna an-Nas bisa juga berarti adalah manusia dari aspek
kelebihannya. Hal ini bagi Al-Isfhani disebabkan wujudnya akal, dzikir
dan akhlak baik dalam diri manusia. seperti pada surat al-Baqarah: 113:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ
النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ
هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ
Dan apabiladikatakankepadamereka, “Berimanlahkamusebagaimana orang lain
telahberiman!” Merekamenjawab, “Apakah kami akanberimanseperti
orang-orang yang kurangakalsehatberiman?” Ingatlah,
sesungguhnyamerekaitulah orang-orang yang kurangakal,
tetapimerekatidaktahu. (Al-Baqarah: 113)
Makna ayat ini tidak menunjukkan pada mengikuti manusia sebagai sebuah
makhluk atau entitas, tetapi lebih pada sifat-sifat luhur kemanusiaan
yang dimilikinya.
Adapun makna ketiga berkaitan erat dengan makna pertama dan kedua. Yaitu
bahwa an-nas menunjukkan perbedaan dan kelebihan manusia di banding
makhluk lainnya. Perbedaannya adalah bahwa manusia tidaklah sama dengan
setan yang hanya didominasi oleh nafsu. Tidak sama pula dengan malaikat
yang tidak memiliki nafsu sama sekali. Perbedaan itu kemudian menjadi
kelebihan jenis manusia dibanding kedua makhluk tersebut.
Selain itu, an-nas dengan makna ketiga ini memberi arti bahwa manusia
bisa lebih condong kepada keimanan atau sebaliknya, kepada kekufuran.
jika an-nas bermakna baik maka ia akan disandingkan dengan malaikat (2:
161, 3: 87, dan 22: 75). Namun jika an-nas bermakna jelek, maka ia
disandikan dengan jin (lihat 11: 119, 32: 13, dan 114: 6).
Konsep Al-Ins
Al-Isfahani di dalam kitabnya menyebutkan kata al-Ins memiliki akar kata
yang sama dengan al-Insan. Meski demikian, bagi al-Ashfahani al-Ins dan
al-Insan memberikan penekanan yang sama sekali berbeda. Secara bahasa
keduanya memang berasal dari alif nun dan sin, tetapi jika di lihat pada
penggunaan katanya di dalam konteks ayat-ayat maka al-Ins, oleh beliau
diartikan khilaful jinni (makhluk yang berbeda dari jin).[6]
Adanya makna tersebut merupakan hasil dari adanya kenyataan bahwa kata
al-Ins selalu disandingkan dengan al-Jinn tetapi tidak menunjukkan
kesamaan melainkan justru perbedaan. Seperti pada Surah Al-An’amayat
128:
ويَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا
مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ
أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ
وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ
خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ
عَلِيمٌ.
Dan (ingatlah) padahari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah
berfirman) “Wahai golongan Jin! Kamu telah banyak menyesatkan manusia.”
Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “YaTuhan, kami
telahsaling mendapatkan kesenangan dan sekarang waktu yang telah Engkau
tentukan buat kami telah dating. “Allah berfirman, “Nerakalah tempat
kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah berkehendak lain. “Sungguh,
Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.
Ayat di atas, menunjukkan perbedaan antara jin dan manusia. sebab jin
pada pengertiannya adalah makhluk yang menyesatkan al-ins (manusia). hal
ini kemudian menjadi dasar bintu Syati di dalam tafsirnya at-tafsir
al-bayan li al-Qur’an al-Karim menafsirkan bahwa sifat manusia harusnya
berbeda dengan sifat jin yang dalam hal ini telah membangkang oleh Allah
sehingga mempunyai pekerjaan menyesatkan. Jika ditarik makna ini lebih
jauh, maka manusia yang telah disesatkan oleh jin pada hakikatnya telah
jauh dari fitrah kemanusiaanya.[7]
Konsep Al-insan
Sementara kata al-Insan, meskipun bukan kata yang paling banyak
tersebutkan dalam al-Qur’an, tetapi memiliki porsi yang cukup luas dalam
menjelaskan konsep manusia menurut al-Qur’an. Secara bahasa, al-Insan
–sebagaimana yang dikutip oleh al-Isfhani adalah:
سمي بذلك لأنه خلق خلقه لا قوام له إلا بإنس بعضهم ببعض
(Dikatakan (al-insan) karena dia adalah makhluk yang diciptakan yang
tidak bisa hidup kecuali bersama dengan manusia lainnya).[8]
Dapat dijelaskan bahwa kata al-Insan mewakili manusia sebagai makhluk
yang tidak bisa mempertahankan eksistensinya sendiri. dalam arti
semenjak proses penciptaan, proses keberlangsungan hidup hingga nanti
proses setelah kematian, manusia adalah makhluk yang menggantungkan
dirinya dan memerlukan lainnya.
Makna al-Qur’an: Makna bahasa ini, bagi penulis kemudian menemukan
perwujudannya dalam tiga pemakanaan yang terdapat dalam al-Qur’an.
Pertama al-Insan itu menunjukkan bahwa manusia itu diciptakan dengan
bergantung kepada Allah. Kedua manusia itu diciptakan dengan membutuhkan
pengetahuan dan manusia diciptakan dengan berbagai macam kekurangan.
Makna pertama bisa ditarik dari firman Allah:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Ayat yang pertama kali diturunkan Allah ini mengindikasikan dengan jelas
bahwa manusia itu pada mulanya diciptakan Allah berupa sesuatu yang
bergantung. Secara filosofis bisa diartikan eksistensi manusia tidak
akan bisa terwujud tanpa ada Allah dan manusia sendiri di dalam proses
kehidupannya akan selalu bergantung pada kekuasaan tuhannya.
Dengan adanya kesadaran tersebut, maka kata al-Insan yang disebutkan
dalam ayat yang menjelaskan proses penciptaan manusia pada hakikatnya
tidak hanya bertujuan menunjukkan manusia dari segi fisiknya belaka,
melainkan lebih kepada bagaimana manusia itu menyadari kekuasaan Allah
atas dirinyaa sehingga manusia itu mengakui bahwa dia bergantung pada
Zat yang menciptakannya:
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ
(5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ
وَالتَّرَائِبِ (7) إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (8)
Al-Tariq (86): 5. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia
diciptakan? 6. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, 7. yang keluar
dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. 8.
Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup
sesudah mati). (Al-Tariq ayat 5-8)
Berhubungan dengan pemaknaan pertama, maka makna kedua bisa dijelaskan
bahwa untuk menyadari ketergantungan manusia kepada penciptanya, maka
al-Insan itu diberikan anugrah Allah berupa ilmu pengetahuan. Sehingga
harusnya pengetahuan itu menjadi kebutuhan, di mana kebutuhan pokok dari
keilmuan itu adalah untuk mengenal Allah dan menyadari kebutuhan kita
akanNya:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
(3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ
يَعْلَمْ(5)
Adapun perwujudan makna al-Insan yang ketiga di dalam al-Qur’an adalah
bahwa manusia itu makhluk yang bergantung disebabkan manusia memiliki
potensi merugi.
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Kerugian tersebut bisa terjadi lantaran di dalam diri manusia
–sebagaimana pemaknaan al-Nas- memiliki sifat-sifat tidak terpuji dan
bisa membawa kepada penyesalan dan keburukan. Di antara sifat tersebut
adalah suka membantah(yasin 77-79, an-nahl: 4), lemah(an-nisa 28),
tergesa-gesa(al-Isra: 11), tidak pandai bersyukur(al-Isra: 67), mudah
berputus asa(al-Isra: 83), suka bangga dan sombong(Hud: 9-11), suka
mengeluh dan kikir(al-Ma'arij: 19-21), suka membantah(18: 54),
kebanyakan tidak mau tahu(33: 72), zhalim dan suka berbuat
bodoh(az-Zumar: 49), suka beralasan(al-Qiyamah: 14), senantiasa dalam
keadaan susah payah (al-Balad: 4)
Kekurangan-kekurangan inilah yang sejatinya bisa menjadikan manusia
berada pada kerugian. Sementara kerugian itu disebutkan dalam al-Qur’an
dengan istilah asfala as-Safilin. Adapun jika manusia memahami
ketergantungannya kepada Allah, kepada pengetahuan akan Allah dan segala
tindakan yang bisa menjurumuskannya dalam potensi-potensi buruk, maka
manusia itu bisa kembali pada penciptaannya yang fitrah dan unggul, atau
yang diistilahkan al-Qur’anahsanitaqwim.
Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa: Manusia di
dalam al-Qur’an diwakili dengan empat kata: al-Basyar, al-Nas, al-Ins
dan al-Insan
Al-Basyr menggambarkan manusia sebagai manusia secara fisik, wadah
materil yang butuh makan dan minum dan menunjukkan manusia jenis apa
saja, baik Nabi maupun kafir
Al-Nas memiliki tiga pemaknaan. Pertama: menunjukkan jenis makhluk yang
bernama manusia. kedua: manusia tidak sebagai entitas secara fisik
tetapi sifat-sifat. Ketiga manusia makhluk yang berbeda karena memiliki
potensi menjadi baik dan menjadi buruk
Makna al-Ins merujuk pada makna berbeda dari Jinn dalam arti negatif
Makna al-Insan yang merujuk pada hakikat manusia sebagai makhluk yang
diciptakan Allah, bergantung pada Allah, membutuhkan ilmu pengetahuan
untuk mematuhi Allah dan menjauhkan diri dari potensi-potensi kerugian
Jika hendak diambil benang merah dari semua kata tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa manusia di dalam al-Qur’an tidak hanya bersifat basyar
saja. tetapi an-nas yang memiliki potensi baik dan buruk. Hakikatnya
manusia harus menjadi al-Ins yang tidak tersesat oleh al-Jinn. Untuk itu
maka manusia harus menghayati dirinya sebagai al-Insan di mana potensi
keburukan dan kerugiannya dijauhi dengan cara menyadari
ketergantungannya kepada Allah melalui pengetahuannya kepada Allah dan
mengaplikasikan pada tindakan untuk menghindari segala potensi keburukan
dalam diri. Ketika manusia tidak bisa seperti itu, maka berarti manusia
tersebut tidak terbimibing oleh wahyu. Akibatnya manusia hanya menjadi
basyar secara fisik yang tidak berbeda dari makhluk lainnya bahkan jatuh
pada derajat asfalas as-safilin. Namun ketika manusia mampu melakukan
proses tersebut, berarti ia merupakan basyar yang istimewa karena
mengikutiwahyu, dengan begitu ia berada pada derajat ahsani taqwim.
Catatan Kaki
[1]Abd. MuinSalim, MetodologiIlmuTafsir (Yogyakarta: Teras, 2010) hlm, 47
[2]Abdul Hayy Al-Farmawi, Al-Bidayah fi al Tafsir al-Maudhu’i (Mesir: Maktabah al Jumhuriyat, 1977), hlm 55-56
[3]Al Raghibal-Ashfahani, Mufradatal-Alfazhal-Qur’an,(Beirut: DarulIlmi, 1412 H), hlm. 124
[4]Al Raghibal-Ashfahani, Mufradatal-Alfazhal-Qur’an,(Beirut: DarulIlmi, 1412 H), hlm. 828
[5]Sahabuddin., (ed.). Ensiklopedi Al-Quran :KajianKosakata, (Jakarta : LenteraHati, 2007), Cet. I, hlm. 1040
[6]Al Raghibal-Ashfahani, Mufradatal-Alfazhal-Qur’an,(Beirut: DarulIlmi, 1412 H), hlm. 94
[7]AisyahBintusySyati, ManusiaDalamPerspektif AL-Qur‟an, (Jakarta: PustakaFirdaus,), hlm. 14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar